Jumat, 19 April 2013


AGRIBISNIS BUAH MANGGA

Nama : Suryanti Saragih
Nim : 111201031
Kelas : Hut 4A

   Mangga mengalami perkembangan produksi karena potensinya yang tinggi. Perkembangan produksi mangga di Jawa Timur semenjak tahun1985 menunjukkan peningkatan. Tiga jenis mangga yang dominan adalah Arumanis, Gadung dan Manalagi. Ada beberapa masalah dalam agribisni mangga di jawa Timur. Permasalahan agribisnis mangga di Jawa Timur yang dapat diidentifikasikan selama ini adalah:
(a).  Volume ekspor buah mangga selama ini mengalami fluktuasi yang sangat tajam dari waktu ke waktu. Beberapa faktor yang terkait dengan masalah ini adalah potensial demand  pasar luar negeri dan domestik ; kendala-kendala kualitas (terutama tentang  jenis/varietas yang  paling disukai konsumen); keadaan teknik penanganan pascapanen; serta kendala-kendala kontinyuitas dan peningkatan produksi buah.
(b). Sebagian besar tanaman  mangga ditanam penduduk di lahan pekarangan di sela-sela tanaman lainnya.  Alternatif pengemban­gan kebun mangga monokultur pada lahan tegalan atau  perkebunan masih belum diketahui secara meyakinkan, apakah tanaman mangga yang diusa­hakan secara komersial cukup "layak" (feasible) baik ditinjau dari aspek finansial, ekonomi, maupun sosial.
(c). Biaya investasi untuk pengusahaan mangga apabila dilakukan secara komersial (perkebunan) cukup besar,  sulit terjangkau oleh petani yang permodalannya lemah. Oleh karenanya, dalam rangka pengem­bangan  agribisnis mangga, perlu dikaji model pengelolaan yang dapat memecahkan masalah tersebut, termasuk permodalan, pemasaran, transfer teknologi serta permasalahan lainnya.
Perkembangan produksi mangga di Jawa Timur semenjak tahun 1985 menunjukkan peningkatan (Tabel 1). Tiga jenis mangga yang dominan adalah Arumanis, Gadung dan Manalagi (Tabel 2)  
Tabel 1.    Perkembangan Produksi Mangga di Jawa Timur Selama Tahun 1985-1990.
Tahun     
    Produksi    
     Perkembangan                   
          
       (ton)    
          (% /th)
 1985     
     186.250    
             -
 1986     
     207.600    
          11.46
 1987     
     284.850    
          37.21
 1988     
     306.225    
           7.50
 1989     
     452.500    
          47.77
 1990     
     611.250    
          35.08
Sumber: Diolah dari laporan Tahunan Dinas Pertanian Tana­man Pangan Propinsi Jawa Timur 1991/1992
Tabel 2. Produksi Mangga Berdasarkan Jenisnya di Jawa  Timur, Tahun 1990
 Jenis Mangga  
        Produksi
         Persen
               
        (ton)  
          (%)
 Arumanis      
       216.994 
        35.50
 Golek         
        92.290 
        15.10
 Manalagi      
       132.641 
        21.70 
Jenis lain    
       169.316 
        27.70
Sumber: Diolah dari Laporan Tahunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Timur, 1991/1992.
Tiga macam faktor agroekologi utama yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman mangga adalah ketinggian tempat, pola hujan sepanjang tahun, dan solum tanah. Sedangkan faktor-faktor agroekologi lain yang dapat membatasi produktivitas tanaman mangga adalah (i) salinitas tanah yang tinggi, (ii) muka air tanah yang terlalu dangkal, (iii) tekstur tanah liat berat, (iv) drainase tanah yang jelek/daerah genangan/banjir, (v) faktor khusus.
Pusat produksi mangga  
Tanaman mangga di Jawa Timur tersebar pada hampir selur­uh wilayah. Daerah-daerah sentra produksi aktual mangga di Jawa Timur disajikan  dalam  Tabel 4.

Tabel 4. Daerah Sentra Produksi Mangga di Jawa Timur
 
Kabupaten 
    Produksi buah (ton) Kultivar:
 

Arumanis   
Golek      
Lainnya

1.
Pasuruan  
  44.436  
  27.025   
   29.143

2.
Probolinggo
  28.895  
   2.565   
    9.620

3.
Kediri    
   4.962  
   8.575   
   24.850

4.
Lumajang  
   7.040  
   4.128   
   13.760

5.
Jombang   
  17.940  
   1.331   
    5.430

6.
Gresik    
   7.524  
    1964   
    9.642

7.
Mojokerto 
   7.434  
   1.127   
    8.270

8.
Ponorogo  
    7.560  
     975   
    7.515

Sumber: Diolah dari Laporan Tahunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jawa Timur, 1991/92.
Usahatani
Tanaman mangga pada umumnya diusahakan di lahan pekaran­gan secara sambilan. Estimasi tentang persentase luas pengu­sahaan mangga berdasarkan sistim pengusahaannya disajikan dalam Tabel 5.
Tanaman mangga di lahan pekarangan penduduk tidak menda­patkan perawatan secara memadai, pemupukan dilakukan ala kadarnya, pemangkasan tajuk tidak dilakukan. Sebagian besar tanaman berumur tua dan ditanam dari biji.
Produktivitas mangga
Jumlah tanaman mangga dan produksinya di daerah sentra produksi Probolinggo disajikan dalam Tabel 6.
Tabel 6.    Jumlah Tanaman dan Produksi Buah Mangga di Kabupaten            Probolinggo, 1990/91.
Kultivar
Jumlah pohon mangga:    
Produksi
          
Productif
Muda   
   Total 
  buah
          


         
    (kw)
Gadung    
95.527    
55.520  
  151.047
  137.085
Manalagi  
44.735    
33.149  
   77.884
   58.357
Golek     
20.950    
23.986  
   44.936
   35.803
Madu      
 7.229    
18.303  
   25.532
    7.898
Jenis lain
45.972    
63.932  
  109.904
  142.372
Jumlah    
214.413    
204.890  
  419.303
  381.515
Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, 1991/1992.
Sistem Pemasaran 
Buah mangga pada umumnya dikonsumsikan dalam bentuk segar, kurang dari satu persen dari total produksi yang diproses menjadi bentuk olahan  (Direktorat Bina Produksi Hortikultura, 1986). Buah mangga sebagian besar dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
a. Saluran Pemasaran. Buah mangga  yang dihasilkan di  Kabupaten  Pasuruan, Probolinggo dan sekitarnya dipasarkan di dalam wilayah Kabu­paten dan sebagian dikirim ke luar wilayah.
               b. Cara Pemasaran
Penjualan buah mangga pada umumnya dilakukan melalui tiga cara, yakni tebasan, ijon dan kontrak. Sebagian besar petani melakukan pemasaran mangganya dengan cara tebasan (80%), sisanya dengan cara ijon dan kontrak. Dalam hal ijon dan kontrak, penentuan harga sangat didominasi oleh pedagang.
c. Marjin pemasaran
Marjin pemasaran mangga di Kabupaten Probolinggo seba­gaimana Tabel     untuk pemasaran sampai luar Probolinggo (ke Jakarta) . Market Share petani dari harga beli konsumen hanya sebesar lebih kurang 45% (Tabel 8). 
Tabel 8.  Pemasaran Mangga dari Kabupaten Probolinggo ke luar Kabupaten, 1991/1992
Aktivitas           
Nilai          
  Pangsa                    
                       
(Rp/100 buah)  
   (%)
1. Petani              
               

   Harga jual          
 14.280        
  44.70
2. Pedagang pengumpul  
               

   a. Harga beli       
 14.280        
  44.70
   b. Biaya            
               

     - Panen           
    714        
   2.23
     - Sortasi         
    460        
   1.44
     - Packing         
  1.285        
   4.02
     - Transport lokal 
    250        
   0.78
     - Kuli angkut     
    860        
   2.69
     - Transpor ke luardaerah (Jakarta)
  5.732        
  17.94    
                  Total           
  9.301        
  29.12     
   c. Harga jual       
 31.945        
 100
   d. Keuntungan       
  8.355        
  26.15
Sumber: Soemarno dkk, 1991
Prospek pengembangan Mangga
Keberhasilan pengembangan mangga di Jawa Timur menghada­pi beberapa faktor:
(a). Swa sembada pangan
Pengembangan tanaman mangga haruslah diarahkan pada lahan kering (pekarangan, tegalan, kebun campuran, dan lahan-lahan kritis). Arah kebijakan ini dipertegas oleh Dinas Pertanian Cabang Kabupaten yang menggelarkan "gerakan mangganisasi", yaitu menanam tanaman mangga  pada setiap jengkal lahan yang kosong.
(b). Pengelolaan lahan kritis
Lahan-lahan kritis di Jawa Timur sampai saat ini masih memer lukan penanganan yang lebih serius, terutama yang berada di kawasan lahan usaha milik penduduk. Kenyataan ini mendor­ong adanya kebijakan Pemerintah Daerah untuk menggerakkan program penghijauan. Jenis tanaman unggulan yang dianjurkan adalah mangga, karena tanaman ini disamping untuk tujuan penghijauan sekaligus dapat meningkatkan pendapatan masyara­kat.

(c). Respons petani
Respon petani untuk menanam mangga pada lahan kering (pekarangan, tegalan, ke­buun, dan lahan-lahan terlantar) cukup besar. Untuk lebih membantu respon penduduk ini pemerintah daerah telah mengar­ahkan bantuan pembangunan desa untuk pengadaan bibit mangga yang baik.
(d). Intensifikasi penggunaan lahan
Intensitas penggunaan lahan kering masih sangat rendah yakni satu sampai dua kali setahun (tanam yang kedua kadang-kadang berhasil dipanen dan kadang-kadang gagal dipanen karena mengalami kekeringan). Pada musim kemarau lahan-lahan seperti ini praktis tidak menghasilkan produk, sehingga lazimnya dikategorikan sebagai lahan  "Sleeping Land".  Dengan demi­kian penanaman mangga pada lahan seperti ini diharapkan dapat meningkatkan intensitas produktivitasnya.
(e). Peningkatan pendapatan petani            
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman mangga memberikan sejumlah pendapatan keluarga. Kenyataan ini menunjukkan bahwa apabila pengembangan mangga diarahkan pada lahan-lahan petani tersebut diharakan dapat meningkatkan pendapatan petani.
Aspek Sosio-teknologi
Penguasaan agroteknologi mangga oleh penduduk pada umumnya sudah menguasai syarat minimal, akan tetapi untuk menuju kepada usahatani yang lebih intensif masih diperlukan tambahan informasi teknologi inovatif. Teknologi bibit dan pembibitan, penanaman bibit dan perawatan tanaman, serta fungsi pascapanen sederhana telah dikuasai penduduk.
Ketersediaan sarana produksi
Ketersediaan sarana produksi untuk pengembangan mangga yang terpenting adalah bibit yang kualitasnya baik.  Potensi bibit mangga di Jawa Timur masih dapat dikembangkan lagi sesuai dengan permintaan pasar.
Aspek Finansial 
a. Tingkat profit             
Usahatani  mangga  apabila  akan dikembangkan secara kormersial dalam bentuk kebun mangga monokultur, terlebih dahulu perlu dievaluasi keuntungannya. Ramalan produksi mangga dilakukan hingga umur ekonomi tanaman mangga 30-35 tahun pada tingkat produktivitas medium. Hal ini dilakukan dengan alasan untuk memperhitungkan faktor resiko dikarenakan adanya mangga yang tidak bisa dipasarkan karena busuk, terlalu kecil, kecurian, gangguan hama-penyakit dan lain-lain. Berdasarkan estimasi cash flow selama 30 tahun diperoleh informasi bahwa tanaman mangga baru mendatangkan keuntungan setelah umur 5 tahun. Sedangkan apabila modalnya berasal dari kredit akan dapat terlunasi pada tahun ke-10. Besarnya keuntungan mangga pada "discount rate" 18 persen per tahun dengan "Net Present Value" (NPV) sekitar Rp.4.000.000,- sedangkan besarnya "Internal Rate of Return" (IRR) sekitar 32.5 persen. Dengan informasi ini dapat disimpulkan bahwa secara finansial usahatani kebun mangga secara monokultur sangat menguntungkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar